Forum Pramugari

Tiger Air Singapore – Based in Singapore

Flight Attendant
Job ID: IN1112202050

Established in September 2004, Tigerair now operates a fleet of 48 Airbus A320-family aircraft and is committed to increasing its fleet size to 68 by December 2015. The airline operates flights to over 50 destinations across 13 countries and territories in the Asia Pacific region.

View original post 176 more words

Forum Pramugari

FA-(26-10-13)

Rekrutmen Pramugari Garuda Indonesia kembali diadakan di Jakarta pada bulan Oktober ini. Bagi yang tertarik mengikuti, silakan mendaftar via online lewat situs resmi Garuda Indonesia (klik di sini) sebelum mengikuti walk-in interview yang akan dilaksanakan pada:

View original post 58 more words

Forum Pramugari

Dear wannabes, adakah yang suka membaca buku di sini? Kalau ada, FP ingin bertanya dan menggali sedikit lebih dalam mengenai buku tentang Flight Attendant. Kalian bisa menuangkan opini / jawaban kalian mengenai beberapa pertanyaan yang akan FP tanyakan dalam poin-poin berikut ini. Penasaran? Yuk, simak pertanyaan-pertanyaannya di bawah ini 😀

View original post 119 more words

slider1

Oleh. Masya Ruhulessin

Tebu telah menjadi salah satu komoditas perkebunan yang menggiurkan bagi Indonesia setelah kelapa sawit dan karet. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, luas lahan untuk perkebunan tebu di tahun 2012 mencapai 4.567.000 Ha. Luas areal ini terus merangkak naik setiap tahunnya setelah sebelumnya mengalami turun naik luas area pada tahun 1999 hingga 2003. Namun ekspansi lahan ke daerah-daerah baru tentu saja menuai protes yang tidak sedikit. Protes yang berdatangan bukan tanpa alasan. Salah satunya adalah praktek monokultur yang akan berimbas pada biodiversitas dalam suatu lokasi. Belum lagi soal lahan tempat bermukim dan budaya kerja masyarakat setempat yang kadang tidak sesuai dengan jenis industri yang ditawarkan.

Keanekaragaman Hayati di Kepulauan Aru

Kepulauan Aru adalah gugusan kepulauan yang terletak ditepi barat laut dangkal Selat Torres sekitar 7° LS dan 134° LT. Kabupaten Kepulauan Aru memiliki 3 pulau besar (Pulau Wokam, Kobror dan Trangan), dan 8 pulau lain yang merupakan pulau kecil terluar, antara lain Arapula (tidak berpenghuni); Karawaiala (tidak berpenghuni); Panambulai (berpenghuni); Kultubai Utara (tidak berpenghuni); Kultubai selatan (tidak berpenghuni); Karang (tidak berpenghuni); Enu (tidak berpenghuni); dan Batu goyang (berpenghuni). Dari perspektif ekologis, kepulauan Aru termasuk dalam Zona Australasia  yang mana bila dirunut dari kacamata sejarah geologi dan evolusi berpotensi memunculkan banyak flora dan fauna yang unik dibandingakan wilayah lainnya.

Gugusan kepulauan Aru yang terletak dalam wilayah gelombang pasang yang membentang dari pantai barat laut Australia membuat keadaan di lingkungan pantainya sangat bervariasi. Bisa dibayangkan betapa kayanya jenis fauna dan flora pesisir yang ada. Belum lagi kekayaan laut dalam yang belum banyak didokumentasikan. Bukan hanya soal jumlah ikan dan organisme laut berukuran makro yang selama ini telah menjadi mata pencaharian sebagian masyarakat disana, namun juga kekayaan mikroorganisme laut yang bukan tidak mungkin menyimpan potensi luar biasa untuk pengembangan ilmu pengetahuan di masa depan.

Formasi terrestrial umumnya terdiri atas hutan tropis yang tertutup, kemudian bentangan padang savana serta hutan bakau yang menjadi pembatas dengan laut lepas. Meskipun pembukaan hutan terjadi selama untuk peruntukan pemenuhan pangan, belum ada survey botani lengkap yang tersedia. Namun prediksi terakhir dari van Balgooy dan Nooteboom (1995) serta van Balgooy (1996) menyatakan bahwa lebih dari 2000 spesies tanaman mungkin ada kepulauan Aru. Vegetasi alami pulau bagian utara (Wokam, Kobroor dan Koba) terdiri dari tanaman yang umumnya berperan sebagai kanopi hutan dijumpai dengan ketinggian sampai 60m seperti Pometia pinnata (Sapindaceae), Alstonia scholaris (Apocynaceae), dan Syzygium (Myrtaceae) dan Ficus sp. (Moraceae). Beberapa spesies penting di kanopi utama, yaitu Canarium spp., Flindersia amboinensis, Dillenia pteropoda, Instia bijuga , Maranthes corymbosa, dan Podocarpus spp. Hutan hujan tropis merupakan suatu tempat dimana vegetasi begitu kaya, baik dalam jumlah jenis makhluk hidup (flora, fauna dan mikroorganisme) yang membentuknya, maupun dalam tingginya nilai sumberdaya lahan (tanah, air, cahaya matahari) yang dimilikinya. Meskipun hutan hujan tropis tersebar hampir diseluruh wilayah Indonesia, iklim mikro yang tercipta pada suatu wilayah memungkinkan hadirnya spesies-spesies tertentu yang hanya bisa dijumpai di situ.

Dari catatan perjalanan Wallace dari abad ke 19, diketahui bahwa jenis fauna yang ada dikepulauan Aru sangat mirip dengan yang ada di New Guinea. Jenis-jenis  mamalia berkantong, kasuari serta burung yang dijuluki sebagai burung surga, yakni cendrawasih dapat dijumpai di sini. Setelah kedatangan Wallace, beberapa spesies kasuari seperti Casuarius c. beccarii, Casuarius c. intermedius serta beberapa coleoptera teridentifikasi hanya dijumpai di Aru. Aru adalah surga kecil yang masih menyimpan potensi keanekaragam yang belum dijamah hingga kini.

Mau Dibawa Kemana?

Dengan kekayaan plasma nuftah sedemikian unik ini, sangat disayangkan bahwa gurbernur Maluku justru telah menandatangani izin ke-28 perusahaan pada tanggal 29 Juli 2011 dalam rencana pengembangan perkebunan  tebu berskala besar. Perkebunan monokultur bisa dipastikan akan mengurangi atau bahkan nantinya akan melahap habis kekayaan genetis yang tersedia di wilayah kepulauan Aru. Sekitar 500.000 Ha hutan pulau ini akan menjadi perkebunan tebu. Yang saya bayangkan ketika terjadi pembukaan lahan pertama kali, yakni akan terjadinya penebangan dan pembakaran hutan serta akan berdampak pada berkurangnya sumber penyedia oksigen. Hamparan habitat bagi berbagai organisme akan semakin sempit dan bukan tidak mungkin akan berujung pada kepunahan beberapa spesies tertentu. Sungguh ironis! Di saat konservasi mulai diteriakan di mana-mana untuk menyokong keseimbangan alam, pemerintah Maluku justru mengorbankan denyut nadinya untuk gelimpangan rupiah yang sepertinya begitu menggoda.

Sudah sejak lama sebenarnya degradasi ekologis dikepulauan ini terjadi begitu hebat. Dimulai dari pemangkasan hutan bakau yang adalah barrier alami wilayah terrestrial untuk kepentingan budidaya mutiara hingga penangkapan organisme pelagik dalam skala yang besar. Sumber daya alam tersebut diatas memang akan selalu dapat diperbaharui. Namun jika keberlangsungannya terus menerus, sumber daya tersebut akan bergerak menurun pada akhirnya. Dan bagaimana jika semua hal di atas ditambah lagi dengan konversi lahan menjadi perkebunan tebu? Anda bisa bayangkan sendiri apa yang terjadi di masa depan.

So, mau dibawa kemana Aru ini? Apakah dia dengan segala kekayaan alam didalamnya akan ditenggelamkan begitu saja? Penolakan bergaung di mana-mana. #SaveAruIslands seperti gelombang yang terus akan membesar. Pemerintah semestinya sadar bahwa pembanguan bukan hanya soal pengembangan ekonomi semata. Alangkah lucunya negeri ini jika menilai kekayaan hanya dari raupan material yang didapat. Lantas apakah keanekaragaman plasma nuftah yang begitu tinggi dan memiliki potensi untuk dieksplorasi kemudian bukan suatu capaian kekayaan?

Bandung 4 Oktober 2013.

Pustaka Pendukung

Alfred Russel Wallace On the Natural History of the Aru Islands (S38: 1857)

Hope G and Alpin K. 2006. Environmental Change in the Aru Islands on The Archaeology of the Aru Islands, Eastern Indonesia. ANUE Press The Australian National University. Setliff, G. 2007.

Annotated checklist of weevils from the Papuan region (Coleoptera, Curculionoidea). Zootaxa 1536: 1–296.

 

 
Image
kakak @debradriana bersama kakak @dalenzutrak
for #SaveAru Campaign
 
Dalenz Utra adalah pendiri kelompok musik beraliran reggae D’Embalz.  Ketika tampil di Ambon Music Showcase yang digelar Loleba Project di Pattimura Park Ambon, Sabtu (12/10), Dalenz sebagai lead vocal bersama Nugie Wattimury memanfaatkan momen itu untuk mengkampanyekan penyelamatan terhadap alam dan manusia Aru.
 
D’Embalz menyanyikan lagu Ke Manakah Cenderawasihku gubahan Dalenz. Jeritan si burung sorga  akibat hutan Aru dibabat seperti terdengar di Pattimura Park.  Setelah itu ada lagu Mari Bangun Aru dan Rasamange yang menghentak. D’Embalz memainkannya secara apik.
 
“Mau terbang ke mana, cendrawasih/ Mau tinggal di mana, cendrawasih/ Duduk di tepi pantai aku menangis,”  demikian refrein lagu Ke Manakah Cendrawasihku yang baru dibikin sehari sebelumnya.
 
Pada lagu pamungkas, D’Embalz menyindir kepemimpinan di Pemerintahan Kabupaten Aru dengan lagu Pemimpin Imitasi.  Lagu ini bisa diakses di YouTube.  Memang, liriknya tidak menyebut Aru,  Namun melihat fakta bupati dan wakil bupati yang terjerat kasus pidana korupsi, D’Embalz merasa relevan menyuguhkan Pemimpin Imitasi.
 
“Pilihlah pemimpin yang pake hati/ Bukannya pemimpin yang imitasi/ Sadarlah/ Negeri maju karena kita mau,” begitu sepenggal liriknya.
 
Di barisan penonton, Weslly Johannes dkk dari komunitas kreatif orang muda yang menggerakkan aksi #SaveAru membagikan selebaran berisi laporan situasi Aru dan seruan untuk menolak PT Menara Group yang hendak membabat hutan Aru.
Sedangkan di bawa monumen Pattimura, persis di samping panggung, ada pelukis Tesar Saiya beraksi dengan pilox.  Tesar membuat lukisan graffiti pada dua lembar tripleks.  Begitu Loleba Project selesai melantunkan tembang pamungkas Nusaniwe, aksi graffiti juga berakhir.  Di sudut  papan Tesar menulis dengan pilox hitam #Save Aru Islands.
 
Di bawah papan tripleks tersebut, terdapat sekitar 10 penonton konser dari kelompok Aliansi Pecinta Alam Maluku.  Ada Azis Tunny yang pernah mendaki puncak gunung Kilimanjaro di Afrika (5.895 meter),  ada Adzan Tuasama yang pernah mendaki 15 gunung tertinggi di Indonesia, dan aktivis lingkungan lainnya.
 
Sambil menyaksikan Ambon Music Showcase, mereka membentangkan lukisan di atas kertas.  Lukisan burung cendrawasih dengan cat air di atas kartun manila dikerjakan pelukis perempuan Petra Ayowembun.  Di sana terdapat tulisan #Save Aru, Aliansi Pecinta Alam Maluku.  Lukisan burung cendrawasih ini menjadi daya pikat tersendiri.  Para muda bebepa kali meminjam lukisan itu untuk sekadar foto-foto dan menyebarkannya melalui media sosial.
 
Aksi #Save Aru terus saja dikumandangkan dari Ambon.  Pada saat yang hampir bersamaan, sekitar 500 warga berkumpul di Lapangan Yos Sudarso Dobo.  Di sana mereka berorasi menolak kehadiran investor perkebunan yang mau membabat hutan Aru.  Orang-orang Aru membuat aksi stempel jempol darah di atas kain putih untuk dikirim kepada presiden.
 
Salah seorang orator yakni Sius Kolatfeka, pimpinan LSM Kalesang Lingkungan Maluku, mendapat terror dari seorang kaki tangan Menara Group, yang adalah anggota DPRD Aru.  Sius terpaksa dikawal tokoh-tokoh adat selama di Dobo.
 
Melihat keseriusan Menara Group untuk masuk ke Aru, apalagi sejumlah pejabat pemerintah ngotot mendukung investor yang ditopang perusahaan asing raksasa dari Korea dan Abu Dhabi, berbagai pihak termasuk orang muda di Maluku terus menggalakkan dukungan kepada masyarakat Aru yang sedang terancam.
 
Dalam selebaran #SaveAru di Pattimura Park semalam, terdapat petunjuk bagaimana terlibat dengan gerakan #SaveAru. (Rudi Fofid –malukuonline/rudifofid@gmail)

In Solidarity with Aru Island

Image  —  Posted: October 6, 2013 in Uncategorized
Tags: , , ,

“It never crossed my mind at all,” that’s what I tell myself. What we had has come and gone, you’re better off with someone else. It’s for the best I know it is but I see you sometimes I try to hide what I feel inside and I turn around, you’re with her now, I just can’t figure it out…

Aren’t memories supposed to fade? What’s wrong with my heart? I shake it off, let it go. I didn’t think it’d be this hard… I should be strong, movin’ on but I see you sometimes I try to hide what I feel inside and I turn around, you’re with her now, I just can’t figure it out…

Tell me why you’re so hard to forget? Please don’t remind me, I’m not over it…
Tell me why I can’t seem to face the truth? I’m just a little too not over you…

Maybe I regret everything I said, no way to take it all back! Now I’m on my own, how I let you go?
I’ll never understand!